<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Caring Career &#187; Career</title>
	<atom:link href="http://caringcareer.caringcolours.com/category/career/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://caringcareer.caringcolours.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 05 Apr 2012 08:31:32 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1</generator>
		<item>
		<title>Memasarkan UKM Menggunakan Komunitas</title>
		<link>http://caringcareer.caringcolours.com/2011/12/14/memasarkan-ukm-menggunakan-komunitas/</link>
		<comments>http://caringcareer.caringcolours.com/2011/12/14/memasarkan-ukm-menggunakan-komunitas/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Dec 2011 01:49:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>caringcareer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ask Expert]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://caringcareer.caringcolours.com/?p=1151</guid>
		<description><![CDATA[Tanya: Selama dua tahun terakhir ini saya merintis usaha kedai kopi. Saya ingin membangun komunitas konsumen saya dengan menggunakan media sosial (Facebook, Twitter, blog, dan sebagainya). Apa yang harus saya lakukan? Nur Hidayati, Womanpreneur, Sidoarjo, Jawa Timur &#160; Jawab: Kalau Anda pelaku UKM, dengan menggunakan blog, Facebook, Twitter atau YouTube, Anda bisa menjalankan kampanye promosi, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Tanya:</strong></p>
<p>Selama dua tahun terakhir ini saya merintis usaha kedai kopi. Saya ingin membangun komunitas konsumen saya dengan menggunakan media sosial (Facebook, Twitter, blog, dan sebagainya). Apa yang harus saya lakukan?</p>
<p><em>Nur Hidayati, Womanpreneur, Sidoarjo, Jawa Timur</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Jawab: </strong></p>
<p>Kalau Anda pelaku UKM, dengan menggunakan blog, Facebook, Twitter atau YouTube, Anda bisa menjalankan kampanye promosi, men-<em>service</em> pelanggan, atau meminta masukan-masukan dari pelanggan mengenai fitur produk yang mereka inginkan. Anda bisa membangun komunitas pelanggan dan dengan program-program aktivasi komunitas (<em>community activiation</em>).</p>
<p>Saya punya cara mudah yang bisa diikuti pelaku UKM untuk memasarkan produk dan mengembangkan bisnisnya dengan memanfaatkan <em>socmed</em>. Kuncinya adalah mereka harus membangun komunitas konsumen. Secara kontinyu komunitas konsumen ini harus dijaga dan dibina agar terbentuk <em>friendship</em>. Dan setelah <em>friendship </em>terbentuk, maka proses jualan Anda akan menjadi mudah. Langkahnya ada tiga.</p>
<p><strong>#1. Target Consumers</strong></p>
<p>Langkah pertama tentu Anda harus tahu siapa konsumen yang akan dibidik. Kalau Anda mengelola kedai kopi, mungkin target konsumen Anda adalah para pecinta kopi. Atau kalau Anda mengelola lembaga pendidikan <em>pre-school</em>, maka barangkali target konsumen Anda adalah ibu-ibu yang peduli pada pendidikan anak-anaknya sejak dini. Selama Anda tidak memiliki kejelasan mengenai konsumen yang Anda target, maka sesungguhnya bisnis yang Anda tekuni dengan sendirinya tak akan jelas. Target kosumen inilah yang akan menjadi “<em>member</em>” dari komunitas yang Anda bangun.</p>
<p><strong>#2. Common Interests </strong></p>
<p>Setelah jelas siapa target konsumen bisnis UKM Anda, maka langkah kedua adalah mengetahui apa minat bersama (<em>common interests</em>) dan kebutuhan bersama (<em>common needs</em>) dari komunitas konsumen Anda. Mengambil contoh bisnis aplikasi keuangan di atas, maka mungkin <em>common interest</em> pelanggan Anda adalah keinginan agar bisnis restorannya maju pesat. Atau kalau bisnis UKM Anda menarget ibu-ibu yang punya anak di usia <em>pre-school</em>, maka mungkin <em>common interest</em>-nya adalah, mereka ingin anak-anaknya pintar <em>cas cis cus</em> berbahasa Inggris, hobi menghitung dan matematika, jago bermain piano atau balet, dan sebagainya.</p>
<p><strong>#3. Engagement</strong></p>
<p>Berdasarkan pemahaman terhadap <em>common interest</em> konsumen, maka langkah ketiga, Anda harus menyusun program-program <em>community</em> <em>engagement.</em> Program tersebut bisa dalam bentuk <em>conversation</em> melalui <em>blog post, tweets, </em>atau <em>status updates</em> mengenai beragam konten yang terkait dengan <em>common</em> <em>interest</em> mereka. Programnya juga bisa dalam bentuk <em>community</em> <em>activation</em> dengan beragam kegiatan (kopdar, lomba, <em>gathering</em>, promosi diskon, <em>voucer</em>, <em>reward</em>, <em>loyalty</em> <em>program</em>, dsb) baik yang bersifat <em>offline</em> ataupun <em>online</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://caringcareer.caringcolours.com/2011/12/14/memasarkan-ukm-menggunakan-komunitas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ngeblog untuk Personal Branding</title>
		<link>http://caringcareer.caringcolours.com/2011/11/22/ngeblog-untuk-personal-branding/</link>
		<comments>http://caringcareer.caringcolours.com/2011/11/22/ngeblog-untuk-personal-branding/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Nov 2011 10:07:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>caringcareer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ask Expert]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://caringcareer.caringcolours.com/?p=955</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Mas Siwo bagaimana kiat-kiatnya kita melakukan personal branding untuk mendongkrak karir kita dengan menggunakan blog? - Prasanti Ramdani Account Executive, Jakarta- &#160; Jawab: Ngeblog adalah cara cerdas untuk “menjual diri” dan mendongkrak karir kita. Apapun karir yang kita tekuni, apakah di bidang penjualan, public relation, akunting, atau entrepreneur. Berikut ini adalah beberapa kiat ngeblog yang bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Mas Siwo bagaimana kiat-kiatnya kita melakukan personal branding untuk mendongkrak karir kita dengan menggunakan blog?</p>
<p>- Prasanti Ramdani Account Executive, Jakarta-</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Jawab:</strong></p>
<p><em>Ngeblog</em> adalah cara cerdas untuk “menjual diri” dan mendongkrak karir kita. Apapun karir yang kita tekuni, apakah di bidang penjualan, <em>public</em> <em>relation</em>, akunting, atau <em>entrepreneur</em>. Berikut ini adalah beberapa kiat <em>ngeblog</em> yang bisa kamu lakukan.</p>
<p><strong>Bangun positioning. </strong>Caranya gimana? Dengan memberikan konten yang sesuai dengan ekspertis yang kamu miliki. Kalau karir yang kamu bangun adalah bidang penjualan, fokuslah <em>ngeblog</em> mengenai berbagai topik mengenai penjualan. Kalau kamu bergerak di bidang PR, tulislah A-Z mengenai dunia kePR-an. Dengan menulis artikel-artikel yang terkait dengan bidang yang kamu geluti sebulan, setahun, bertahun-tahun, maka secara tak sadar kamu telah menekuni bidang ekspertismu secara mendalam. Kalau ini dilakukan dalam waktu panjang, maka pelan-pelan reputasi kamu sebagai profesional yang ekspert di bidang itu akan terbentuk</p>
<p><strong>Perluas Exposure. </strong>Salah satu keunggulan blog dibanding media konvensional adalah jangkuannya yang luas ke seluruh pelosok dunia. Karena itu, disiplinlah ngeblog untuk menjangkau <em>stakeholders</em> kamu seperti <em>potential employers, clients, </em>atau<em> had hunters</em>. Dengan <em>ngeblog</em> maka <em>exposure</em> dan jangkauan “pemasaran” <em>personal brand</em> kamu akan lebih luas, tak hanya seluruh Indonesia bahkan seluruh dunia. <em>Ngeblog</em> memberimu kesempatan untuk menunjukkan <em>personal brand</em> kamu ke <em>target audience</em> yang lebih luas.</p>
<p><strong>Ciptakan Engagement. </strong>Dengan blogging, upaya untuk personal branding harus dilakukan secara dua arah melalui interaksi yang intens dengan target audience. Berbagai bentuk engagement bisa dilakukan mulai dari ber-<em>networking</em>, berdiskusi, berbagi pengetahuan, berkolaborasi, dan sebagainya. Itu semua bisa dilakukan secara online melalui blog kamu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://caringcareer.caringcolours.com/2011/11/22/ngeblog-untuk-personal-branding/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengevaluasi Tawaran Kerja</title>
		<link>http://caringcareer.caringcolours.com/2011/10/09/mengevaluasi-tawaran-kerja/</link>
		<comments>http://caringcareer.caringcolours.com/2011/10/09/mengevaluasi-tawaran-kerja/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 09 Oct 2011 14:36:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>caringcareer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Career]]></category>
		<category><![CDATA[Career Tips]]></category>
		<category><![CDATA[Cover Story]]></category>
		<category><![CDATA[Smart Working]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://caringcareer.caringcolours.com/?p=821</guid>
		<description><![CDATA[CaringLova, Ada kalanya kita yang tengah asyik-asyiknya bekerja, atau masih betah di suatu perusahaan, tiba-tiba mendapat tawaran kerja di tempat lain, entah itu dari head hunter atau bagian personalia sebuah perusahaan. Tentu itu hal yang menyenangkan, bukan? Kalau posisi kita memang sedang tidak bekerja dan kita sudah ke sana-ke mari mengantar lamaran, kemungkinan besar tawaran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>CaringLova,</p>
<p>Ada kalanya kita yang tengah asyik-asyiknya bekerja, atau masih betah di suatu perusahaan, tiba-tiba mendapat tawaran kerja di tempat lain, entah itu dari <em>head hunter</em> atau bagian personalia sebuah perusahaan. Tentu itu hal yang menyenangkan, bukan? Kalau posisi kita memang sedang tidak bekerja dan kita sudah ke sana-ke mari mengantar lamaran, kemungkinan besar tawaran itu akan ditubruk. Tapi bagaimana kalau kita belum terpikir untuk pindah?</p>
<p>Kalau kita memang masih betah dan merasa masih bisa berkembang, tak ada salahnya kita bertahan. Namun bila kita bimbang dan ingin menerima tawaran tersebut, ada beberapa hal yang layak dipertimbangkan:</p>
<p><strong>Gaji</strong><br />
Uang memang bukan faktor utama kepuasan kerja. Akan tetapi, di muka bumi ini, tak ada yang bilang itu tidak penting. Untuk mengetahui berapa gaji yang pantas buat posisi yang ditawarkan, Anda bisa melihat survei gaji yang diterbitkan media masa sebagai patokan. Bisa juga menanyakan ke rekan kerja atau sahabat yang boleh jadi posisinya sama dengan yang ditawarkan pada Anda. Yang pasti, Anda harus mendapat lebih tinggi dari yang diperoleh sekarang.</p>
<p><strong>Lingkungan kerja</strong><br />
Setiap tempat kerja memiliki lingkungan tersendiri. Cobalah cari tahu di lingkungan seperti apa Anda akan ditempatkan. Bila Anda berkesempatan <em>interview</em>, sangat baik bila melihat-lihat seperti apa lingkungan kerjanya. Lingkungan di sini lebih pada aspek fisik: bangunan dan ruang kerja. Berkeliling di tempat yang baru, bisa sedikit memberi kesan seperti apa tempat tersebut.</p>
<p><strong>Budaya perusahaan</strong><br />
Kamus Merriam-Webster menyatakan bahwa budaya perusahaan adalah “<em>seperangkat perilaku, nilai-nilai, tujuan, dan praktik yang ada dalam sebuah perusahaan</em>”. Nah, coba cari tahu atau tanyakan pada yang menawari kerja tentang hal tersebut. Apakah di tempat baru, budayanya adalah “yang penting dapat proyek”, sementara Anda adalah orang yang tidak mau menghalalkan segala cara. Ini adalah contoh yang nantinya akan berbenturan dengan Anda sehingga Anda tidak cocok bekerja di sini.</p>
<p><strong>Calon Bos/Rekan kerja</strong><br />
Kita tak akan bekerja sendiri. Cobalah cari tahu siapa atasan Anda kelak. Atau rekan kerja nanti. Dan kalau Anda ditawari posisi yang membawahi staf, tak ada salahnya untuk meminta keterangan pada yang menawari kerja, siapa yang akan menjadi anak buah Anda. Dengan mengetahui profil bos dan mitra kerja, setidaknya ada gambaran dengan siapa Anda akan menghabiskan waktu di kantor. Bahkan bila beruntung <em>diinterview </em> langsung oleh calon bos, Anda akan tahu seperti apa tipikalnya dengan melihat cara dia bersikap dan memperlakukan karyawan lainnya. Meski singkat, kesan yang didapat sering menunjukkan karakter seseorang.</p>
<p>Nah, bila semuanya positif, jangan ragu untuk mengatakan “Ya”. Bila Anda banyak menemukan ketidakcocokan dari aspek-aspek di atas, kata “<em>No</em>” layak diutarakan dengan baik-baik.</p>
<p><em>(foto: istimewa)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://caringcareer.caringcolours.com/2011/10/09/mengevaluasi-tawaran-kerja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengelola Gaji</title>
		<link>http://caringcareer.caringcolours.com/2011/10/05/mengelola-gaji/</link>
		<comments>http://caringcareer.caringcolours.com/2011/10/05/mengelola-gaji/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Oct 2011 17:29:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>caringcareer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Career]]></category>
		<category><![CDATA[Cover Story]]></category>
		<category><![CDATA[Personal Life]]></category>
		<category><![CDATA[Smart Working]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://caringcareer.caringcolours.com/?p=816</guid>
		<description><![CDATA[CaringLova, Tentu menyenangkan bukan saat kita mendapat gaji? Apalagi itu gaji pertama dan jumlahnya lebih dari cukup. Wah…, rasanya bisa membuat kita melayang tinggi. Eits, tapi tunggu dulu. Sebagai wanita karir, kita harus pandai mengelola gaji agar pendapatan yang kita terima bisa digunakan maksimal dan tidak besar pasak dari tiang. Tahu artinya, kan? Artinya: lebih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>CaringLova,</p>
<p>Tentu menyenangkan bukan saat kita mendapat gaji? Apalagi itu gaji pertama dan jumlahnya lebih dari cukup. Wah…, rasanya bisa membuat kita melayang tinggi.</p>
<p><em>Eits</em>, tapi tunggu dulu. Sebagai wanita karir, kita harus pandai mengelola gaji agar pendapatan yang kita terima bisa digunakan maksimal dan tidak besar pasak dari tiang. Tahu artinya, kan? Artinya: lebih besar pengeluaran dari gaji yang kita terima alias jebol <em>bin </em>nombok.</p>
<p>Nah, ini dia tips agar kita bijak dalam mengelola keuangan, yang beberapa diantaranya diberikan oleh Prita Hapsari Ghozie, seorang <em>chief financial planner</em> ternama: </p>
<p><strong>Alokasi dan rencana pengeluaran</strong><br />
Alokasikanlah gaji kita per pos. Buat catatan paling tidak 3 bulan ke belakang untuk melihat apa saja pengeluaran yang kita gunakan dari gaji yang didapat. Ini sangat berguna agar kita dapat mengetahui sejauh mana kemampuan finansial kita dan pos-pos mana saja yang pengeluarannya besar. Pos untuk transport, makan, bayar kost harus sudah direncanakan. Termasuk juga dana darurat. Dengan begitu akan memudahkan kita untuk mengetahui pengeluaran wajib yang harus dibayarkan. Masukan dalam amplop terpisah.</p>
<p><strong>Buat prioritas</strong><br />
Bagaimana kalau pemasukan yang kita dapat ternyata tidak sebesar rencana pengeluaran? Prita manawarkan langkah membuat prioritas dalam menyusun rencana pengeluaran lewat metode ZAPFIN. Ini merupakan cara mudah membuat prioritas anggaran. Setiap pendapatan yang diterima, digunakan dengan pembagian berikut: <em>Zakat, Assurance, Present Consumption, Future Spending</em> dan <em>Investment</em>.</p>
<p><strong>Usahakan menabung</strong><br />
Sekalipun tak mudah, upayakan untuk tetap menabung. Sisihkan untuk yang satu ini. Bahkan menyisihkan Rp 2 ribu atau 5 ribu di luar pos-pos pengeluaran rutin akan sangat berguna. Di akhir bulan tertentu, ada uang yang bisa digunakan, termasuk untuk menambah pos dana darurat. </p>
<p><strong>Investasi</strong><br />
Bila ada sisa, upayakan juga untuk memiliki investasi. Minimal dalam bentuk deposito sehingga tidak selalu diambil sewaktu-waktu.</p>
<p><strong>Disiplin</strong><br />
Pada akhirnya, pengelolaan gaji adalah perkara kedisiplinan. Kita harus disiplin terhadap rencana yang dibuat. Sebesar apapun gaji yang diterima, tidak akan cukup jika tidak disiplin mengaturnya.</p>
<p>Nah, selamat mengelola gaji, ya!</p>
<p>(<em>foto: istimewa</em>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://caringcareer.caringcolours.com/2011/10/05/mengelola-gaji/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Meningkatkan Self-Esteem</title>
		<link>http://caringcareer.caringcolours.com/2011/09/30/meningkatkan-self-esteem/</link>
		<comments>http://caringcareer.caringcolours.com/2011/09/30/meningkatkan-self-esteem/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Sep 2011 17:30:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>caringcareer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Career]]></category>
		<category><![CDATA[Career Tips]]></category>
		<category><![CDATA[Cover Story]]></category>
		<category><![CDATA[Smart Working]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://caringcareer.caringcolours.com/?p=812</guid>
		<description><![CDATA[CaringLova, Seringkah kita sadari bahwa kesuksesan dalam hidup dan karir, kerap terhubung dengan yang disebut sebagai self esteem? Bukankah kita sering mendengar jargon klise, “You are what you eat”, atau “You are what you think”? Nah, self-esteem kita adalah bagaimana kita memandang diri sendiri. Self-esteem adalah penilaian seseorang terhadap dirinya sendiri, baik berupa penilaian negatif [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>CaringLova,</p>
<p>Seringkah kita sadari bahwa kesuksesan dalam hidup dan karir, kerap terhubung dengan yang disebut sebagai <em>self esteem</em>? Bukankah kita sering mendengar jargon klise, “<em>You are what you eat</em>”, atau “<em>You are what you think</em>”? Nah, <em>self-esteem</em> kita adalah bagaimana kita memandang diri sendiri.</p>
<p><em>Self-esteem</em> adalah penilaian seseorang terhadap dirinya sendiri, baik berupa penilaian negatif maupun penilaian positif yang akhirnya menghasilkan perasaan keberhargaan atau kebergunaan diri dalam menjalani kehidupan.</p>
<p>Tentu saja kita ingin punya <em>self-esteem</em> yang positif. Dan dalam karir, hal demikian akan sangat membantu. Sebab dengan memandang diri secara positif, kita akan semakin percaya diri. Itulah karenanya kita harus berupaya meningkatkan <em>self-esteem</em>. Tentunya dengan tetap proposional sehingga tidak terkena seindrom <em>ke-ge-er-an</em> yang justru malah sering merugikan karena kita menjadi <em>over confidence</em>.</p>
<p>Berikut adalah 5 tips untuk meningkatkans <em>elf-esteem</em>:</p>
<p><strong>Buat daftar hal positif tentang diri kita</strong>:<br />
Setiap orang punya kelemahan. Tapi juga punya kekuatan. Jangan berpikir, “Ah, saya tidak bagus di sisi ini, sisi itu, <em>bla-bla-bla</em>.” Fokuskan pada kekuatan yang kita miliki. Jadikan ini sebagai modal untuk kita melangkah lebih jauh. Nyatakan dalam diri, “Saya punya kemampuan ini, itu, dst. Saya pasti bisa.” Pertajamlah kemampuan/kelebihan tersebut. </p>
<p><strong>Jangan selalu dengarkan orang:</strong><br />
Artinya, jangan terlalu ambil pusing dengan omongan orang yang tidak konstruktif terhadap diri kita, kecuali inputnya akan memperbaiki kelemahan kita, ingat lagi tips pertama: bahwa semua orang punya kelemahan. Fokuslah pada kekuatan kita.</p>
<p><strong>Bersyukur:</strong><br />
Ada pepatah mengatakan “<em>Attitude of gratitude</em>”. Selalulah bersyukur untuk apa yang kita miliki hari ini, mulai dari makanan, tempat tinggal, dsb. Itu akan menambah <em>self-esteem</em> kita. Membuat kita merasa betapa beruntungnya kita.</p>
<p><strong>Lihat apa yang kita senangi:</strong><br />
Buat daftar apa yang ingin kita capai dan ingin kita lakukan. Tancapkan keberanian dan keyakinan bahwa dengan kemampuan yang kita miliki, kita bisa meraih itu semua.</p>
<p><strong>Berteman dengan orang optimistis:</strong><br />
Kelilingilah diri kita dengan orang-orang yang punya optimisme dan sikap positif dalam kehidupan. Berteman dengan mereka akan mendatangkan sikap serupa sehingga<em> self-esteem</em> kita pun meningkat.</p>
<p>CaringLova,<br />
Dengan konsisten kita melatih 5 tips di atas, maka akan lebih mudah buat kita untuk meningkatkan <em>self-esteem</em>. Dengan sendirinya, kita pun berharap bisa semakin positif dan optimis dalam melakoni hidup serta karir. Lima langkah yang mudah tapi sangat bermanfaat!</p>
<p>(<em>foto: istimewa</em>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://caringcareer.caringcolours.com/2011/09/30/meningkatkan-self-esteem/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

